Setiap tanggal 21, Kaum Wanita sibuk merayakan Hari Kartini. Mulai dari dandan menor yang identik dengan kebaya dan konde. Dari anak TK hingga orang dewasa, semuanya pada ngerayain Hari Kartini.
Terlepas dari busana khas Hari Kartini, seperti petikan suratnya : "Kami disini memohon diusahakan pengejaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki, dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cukup melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri kedalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama." [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]
Jadi, sebenarnya yang diperjuangkan Kartini agar kaum wanita tidak didiskriminasi dalam menuntut ilmu. Karena kartini yakin jika seorang ibu memiliki bekal ilmu yang cukup, maka akan mampu melahirkan generasi yang berkualitas.
Maka dari itu kita harus bertrimakasih kepada kartini. Karena Baliaulah kita dapat menikmati pendidikan hingga sekarang ini. Tapi sayanganya, wanita terdidik saat ini kerap menuntut lebih diluar hak-hak yang semestinya sudah didapatkan atau Emansipasi Kebablasan.
Dengan mengorbankan fitrahnya sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Jadi kalau seperti ini ceritanya, bisajadi Kartini menyesal karena telah dijadikan ikon perjuangan emansipasi kaum perempuan.
Jadi, Jangan Khianati Kartini
Komentar
Posting Komentar